Kelima nih ...

0 comments Saturday, February 5, 2011
Berbeda dengan kelompok masyarakat lain yang lebih sederhana. Aktivitas perumahan di perkotaan terutama bagi golongan ekonomi rendah, selain terkait dengan masalah sosial dan budaya juga dipengaruhi oleh rasionalitas terhadap keadaan ekonominya (Gilbert dan Gugler, 1996: 111-116), bahkan merupakan aktivitas yang bersifat politis selain sebagai aktivitas sosial, ekonomi dan secara fisik (Turner,1982: 106).

Untuk itu maka sebuah penelitian lapangan mengenai aktivitas perumahan di perkotaan menjadi penting dilakukan oleh kajian Antropologi. Di mana dari dua aspek dalam pendekatan kajian perkotaan yaitu aspek fisik dan aspek mental, aspek mental – yang bertalian dengan orientasi nilai dan kebiasaan hidup penduduk kota – merupakan fokus perhatian Antropologi tanpa mengabaikan pada aspek fisik (Menno dan Alwi, 1994: 35).
Read On
Read On

Ketiga dan lumayan panjang

0 comments
Upaya pengadaan perumahan merupakan salah satu permasalahan yang diagendakan oleh setiap pemerintah di setiap negara, terutama di negara-negara dunia ketiga (Gilbert dan Gugler, 1996; Soto, 1992). Di samping masalah kependudukan dan pertanahan, keterjangkauan daya beli (affordability) adalah faktor dominan yang dirasakan dalam pengadan perumahan yang diupayakan oleh pemerintah. 

Read On

Kedua

0 comments

Pola hubungan ketetanggaan dioperasionalisasikan sebagai perwujudan simbolik menanggapi kondisi bangunan lingkungan permukiman yang terbentuk dengan didasari oleh adanya kerangka acuan di tingkat normatif dan kognitif yang dimiliki oleh para penghuninya.
Read On

Kesatu satu dan satu

0 comments

Pada bab ini akan ditampilkan khazanah kepustakaan yang ada mengenai gaya-bermukim; pengetahuan manusia terhadap lingkungan dan ruang di sekelilingnya; satuan ketetanggaan dan kehidupan di dalamnya pada sebuah lngkungan permukiman serta aktivitas perumahan di perkotaan. Penyusunannya dibagi menjadi empat sub bab untuk memudahkan pengorganisasian penulisan pokok-pokok pikiran dari keempat wacana di atas.

Gaya-bermukim (habitation-style) adalah pola tingkah laku yang sebagian besar terstruktur, yang berkaitan dengan bangunan, tata letak dan pemakaian rumah serta komposisi sosial yang khas, juga berkaitan dengan kerangka acuan kognitif dan normatif, serta perwujudan simbolik yang terkait (Nas dan Prins, 1988: 116). Lebih lanjut Nas dan Prins membagi kajiannya dalam tiga tingkatan, yaitu tingkat kognitif; tingkat normatif dan tingkat rumah tangga. Menurutnya tiga tingkatan tersebut walaupun dapat dibeda-bedakan demi keperluan analisis, tidak dapat dilepaskan satu sama lain dan harus diletakkan dalam sudut pandang perubahan dan perkembangan sosial.


  1. Pada bab ini akan ditampilkan khazanah kepustakaan yang ada mengenai gaya-bermukim.
  2. Pengetahuan manusia terhadap lingkungan dan ruang di sekelilingnya.
  3. Satuan ketetanggaan dan kehidupan di dalamnya pada sebuah lngkungan permukiman serta aktivitas perumahan di perkotaan.
  4. Penyusunannya dibagi menjadi empat sub bab untuk memudahkan pengorganisasian penulisan pokok-pokok pikiran dari keempat wacana di atas.
Read On